Material Batu Drainase Proyek Milik BPJN di Lampung Barat Disorot, Kualitas Pekerjaan Dipertanyakan



GK, LAMPUNG BARAT – Pekerjaan pembangunan drainase di Jalinsum Liwa -Krui Kabupaten Lampung Barat, milik BPJN Lampung kembali menjadi sorotan. Kali ini, perhatian publik tertuju pada material batu yang digunakan dalam pasangan drainase, yang dinilai tidak sepenuhnya memenuhi kaidah teknis konstruksi.

Berdasarkan pantauan di lokasi, material batu yang digunakan pada pasangan drainase tampak berupa batu belah dengan ukuran tidak seragam. Sejumlah batu terlihat berukuran terlalu besar, tidak proporsional, dan sebagian tampak belum dibentuk sesuai kebutuhan konstruksi pasangan.

Selain itu, susunan batu juga terlihat belum tersusun rapi dan presisi. Pada beberapa bagian, batu tampak ditumpuk begitu saja dengan celah yang cukup lebar, sehingga memunculkan pertanyaan terkait kekuatan struktur pasangan drainase dalam jangka panjang.

Secara teknis, dalam pekerjaan pasangan batu untuk drainase, material yang digunakan seharusnya memenuhi spesifikasi dasar konstruksi, di antaranya batu harus keras, tidak mudah pecah, bersih dari tanah, serta memiliki ukuran yang relatif seragam agar dapat saling mengikat saat dipasang dengan adukan.

Penggunaan batu dengan ukuran terlalu besar dan tidak seragam berpotensi mengurangi kekuatan ikatan pasangan, karena adukan semen tidak dapat mengisi ruang antar batu secara optimal. Kondisi ini juga dapat memengaruhi kerapatan struktur dan meningkatkan risiko retak atau longsor pada dinding drainase.

Selain material batu, kerapian susunan menjadi faktor penting dalam pekerjaan pasangan. Dalam standar teknis konstruksi, batu seharusnya dipasang saling mengunci, bukan sekadar ditumpuk, agar beban tanah di sisi drainase dapat tertahan dengan baik.

Jika mengacu pada kaidah teknis pekerjaan pasangan batu kali, kondisi material pada proyek tersebut patut dievaluasi lebih lanjut, terutama untuk memastikan apakah pelaksanaan di lapangan telah sesuai dengan spesifikasi teknis dalam dokumen perencanaan dan kontrak kerja.

Praktisi konstruksi menilai, kualitas material dan metode pemasangan menjadi penentu utama umur bangunan drainase. Ketidaksesuaian spesifikasi, meski terlihat kecil di awal pekerjaan, dapat berdampak pada kerusakan struktur dalam waktu relatif singkat.

Karena itu, pengawasan teknis dari pelaksana, konsultan pengawas, hingga instansi terkait dinilai penting agar mutu pekerjaan tetap terjaga dan hasil pembangunan tidak sekadar selesai secara fisik, tetapi juga memenuhi standar kualitas konstruksi.

Ditambah lagi tidak adanya papan informasi di lokasi pekerjaan, kondisi ini sangat memungkinkan adalah bagian upaya untuk mengelabui pengawasan masyarakat. (Red)

Post a Comment

Silahkan Tulis Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama