Bandar Lampung – Kinerja perekonomian Provinsi Lampung pada triwulan I-2026 menunjukkan capaian yang impresif. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,58 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y), menjadi yang tertinggi untuk periode triwulan I sejak 2014.
Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, dalam rilis resmi yang disampaikan pada Selasa (5/5), menjelaskan bahwa capaian ini juga lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2025 yang tumbuh 5,54 persen. Namun, secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Lampung mengalami kontraksi sebesar 1,08 persen yang dipengaruhi faktor musiman.
“Secara umum, perekonomian Lampung menunjukkan kinerja yang sangat baik, dengan pertumbuhan yang ditopang oleh berbagai sektor utama,” ujar Ahmadriswan.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat sebesar Rp132,36 triliun, sementara atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp73,44 triliun.
Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi didorong oleh kinerja positif sejumlah lapangan usaha. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 12,43 persen, diikuti jasa keuangan sebesar 10,46 persen, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 9,89 persen.
Meski demikian, beberapa sektor mengalami kontraksi, seperti pengadaan air yang terkontraksi 3,83 persen serta pertambangan dan penggalian sebesar 1,91 persen.
Secara struktur, perekonomian Lampung masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi sebesar 25,58 persen, disusul industri pengolahan sebesar 18,97 persen dan perdagangan sebesar 15,03 persen.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi pemerintah yang tumbuh 13,84 persen, konsumsi lembaga non-profit rumah tangga (LNPRT) sebesar 9,11 persen, serta konsumsi rumah tangga sebesar 5,54 persen. Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 4,39 persen, ekspor 0,75 persen, dan impor 1,06 persen.
Secara spasial, Lampung berkontribusi sebesar 9,72 persen terhadap perekonomian Pulau Sumatera dan menempati posisi keempat setelah Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan. Pertumbuhan ekonomi Lampung juga tercatat sebagai yang tertinggi kedua di Sumatera setelah Kepulauan Riau.
Selain pertumbuhan ekonomi, kondisi ketenagakerjaan di Lampung juga menunjukkan perbaikan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,95 persen, menurun dibandingkan Februari 2025 sebesar 4,07 persen.
Jumlah penduduk bekerja mencapai 4,91 juta orang, dengan tambahan penyerapan tenaga kerja sebanyak 34,53 ribu orang dalam setahun terakhir. Sementara itu, jumlah pengangguran turun menjadi 202,32 ribu orang.
Mayoritas tenaga kerja masih terserap di sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan. Dari sisi kualitas, proporsi pekerja penuh meningkat menjadi 59,93 persen, menunjukkan perbaikan struktur ketenagakerjaan.
Di sisi demografi, hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat jumlah penduduk Lampung mencapai 9,53 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan sebesar 1,18 persen per tahun.
Struktur penduduk masih didominasi usia produktif, dengan proporsi mencapai 68,13 persen. Generasi Z dan milenial menjadi kelompok terbesar, mencerminkan potensi bonus demografi yang masih kuat.
Namun demikian, Lampung juga mulai memasuki fase ageing population, ditandai dengan meningkatnya penduduk lanjut usia yang mencapai 11,39 persen. Kondisi ini berimplikasi pada meningkatnya rasio ketergantungan yang kini berada di angka 46,79.
Dalam aspek pembangunan manusia, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Lampung tahun 2025 menunjukkan perbaikan dengan nilai 0,375, turun dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan, terutama pada aspek kesehatan reproduksi dan pendidikan.
Meski demikian, partisipasi perempuan di pasar tenaga kerja masih menjadi perhatian karena mengalami sedikit penurunan.
Ahmadriswan menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjaga tren positif ini. “Peningkatan kualitas sumber daya manusia, perluasan kesempatan kerja, serta kebijakan yang responsif gender menjadi kunci pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan capaian ini, Provinsi Lampung menunjukkan fondasi ekonomi dan sosial yang semakin kuat, meskipun tetap menghadapi sejumlah tantangan ke depan, terutama dalam menjaga stabilitas pertumbuhan, meningkatkan kualitas tenaga kerja, serta menghadapi transisi demografi.
