Di Warkop WAW, Meracik Kopi Meracik Puisi Di Warkop WAW, Meracik Kopi Meracik Puisi
Portal Garis Komando (gariskomando.com) adalah website Pemberitaan (News) yang dikemas secara umum namun didominasi dengan berita TNI/Polri. | Portal Garis Komando berdasarkan ide demi meningkatkan citra baik TNI/Polri dan mewujudkan kepuasan Masyarakat terhadap TNI/Polri. | KAMI JUGA MENERIMA PESANAN PEMBUATAN RILIS BERITA, ARTIKEL, PROFIL, CERITA, DAN LAIN SEBAGAINYA DENGAN HARGA VARIATIF. SILAHKAN HUBUNGI NOMOR 0896 1900 1005 (TELEPON DAN WHATSAPP).

Garis Komando

Di Warkop WAW, Meracik Kopi Meracik Puisi


Lampung -
Meracik kopi meracik puisi. Itulah tema yang dibahas Paus Sastra Lampung Touring di Warung Kopi WAW, Kamis (7/10/2021) malam.

Dialog sastra tur buku puisi "Secangkir Kopi di Meja Kedai" menghadirkan owner Warkop WAW, Ismail Komar dan Isbedy Stiawan ZS.

Hadir pula produser Djadin Production, David dan Erwin dari BJB yang kebetulan tengah menikmati racikan kopi Warkop WAW di Jalan Turi Raya, Tanjungsenang, Bandarlampung.

Ismail Komar yang menggeluti bisnis minuman kopi setelah sehat karena minum kopi, punya tagline 'kopi sehat'.

Ia menjelaskan, sebenarnya cara meracik kopi di tempatnya biasa saja.

"Yang tidak biasa memilih kopi berkualitas yang ditanam di Provinsi Lampung. Di sini kami sediakan 99 rasa," ungkapnya.

Ia juga mendemo cara membuatkan kopi, lalu menyajikan. Ada juga biji kopi yang diseduh air panas, sebagai kopi sehat.

"Ada bedanya kopi WAW dan kopi umum," ujarnya lagi.

Ditambahkan, ia tak menyajikan kopi yang nimat melainkan kopi sehat. Soal nikmat sifatnya selera.

Warkop WAW sudah dikenal di Lampung, bahkan luar daerah hingga mancanegara.

Sementara Isbedy Stiawan ZS menjelaskan, pembacaan puisi dan dialog sastra dari kafe ke kafe bagian dari perjalanan bersama kru kanal youtube Paus Sastra Lampung.

"Saya baru menerbitkan buku puisi bertema kopi hasil kunjungan berbagai kafe atau kedai (warung kopi). Saatnya saya bacakan untuk konten youtube saya di beberapa kafe di Lampung," jelasnya.

Isbedy juga menjelaskan cara meracik puisi. Dari mendapatkan ide, memilih kata menjadi kalimat, dan disajikan sebagai puisi dengan menerapkan imajinasi, simbol, ataupun pencitraan.

"Puisi yang baik menurut saya, dari gagasan sudah baik dan ditulis dengan bahasa/kata yang baik dan benar pula," ungkapnya.

Keduanya sepakat bahwa puisi dan kopi selalu melengkapi. Menikmati kopi sambil menyelami puisi.

"Mayoritas seniman (sastrawan) penyuka kopi. Di kafe sambil menikmati kopi, kerap datang inspirasi," kata Isbedy.

Tim Djadin Production untuk kanal Paus Sastra Lampung diperkuat Iwang Bagas Tama (kameramen/editor) dan Vian.co.id sebagai audio dan kameramen. [Sur]

Posting Komentar

0 Komentar